Pangkalpinang,LibangNews.Com – Pemerintah Kota Pangkalpinang terus mendorong pelestarian kebudayaan lokal melalui penyelenggaraan Kentra Pangkal Festival 4 yang menampilkan beragam kesenian tradisional. Sebanyak 30 sanggar seni ambil bagian dalam festival yang berlangsung selama tiga hari tersebut, mulai Sabtu hingga Senin mendatang.
Kegiatan yang merupakan rangkaian peringatan Hari Kebudayaan Nasional ini menjadi ruang bagi para pelaku seni untuk memperkenalkan, mempertahankan, sekaligus mewariskan kesenian tradisional kepada generasi muda.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang, Darwin, mengatakan festival tersebut tidak hanya berorientasi pada pertunjukan seni, tetapi juga menjadi upaya meneruskan tradisi kebudayaan kepada generasi penerus.
“Secara tidak langsung, satu makna yang dapat kita ambil adalah meneruskan tradisi dan kebudayaan tradisional kepada pewaris-pewarisnya, terutama dari berbagai lintas generasi,” ujar Darwin, Sabtu malam (17/10/2026).
Berbagai kesenian tradisional ditampilkan dalam festival ini, mulai dari hadrah, rebana, rodat, barongsai, tari campak hingga dambus.
Menurut Darwin, penyelenggaraan festival juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Kehadiran pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di sekitar kegiatan diharapkan dapat mendorong perputaran ekonomi sekaligus menghidupkan ekosistem kesenian daerah.
“Secara tidak langsung kita menggandeng beberapa UMKM untuk turut serta, sehingga ada perputaran ekonomi. Kita berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut dan melahirkan generasi-generasi penerus kesenian tradisional,” katanya.

Darwin menegaskan, pelestarian kebudayaan Pangkalpinang ke depan akan diperkuat melalui pendidikan, salah satunya dengan memasukkan unsur kebudayaan lokal ke dalam pembelajaran di sekolah.
Salah satu program yang dikembangkan adalah Dambus Masuk Sekolah, sebagai upaya memperkenalkan kesenian khas daerah kepada pelajar.
Selain melalui sekolah, Pemkot Pangkalpinang juga berupaya menyediakan ruang bagi para pelaku seni untuk menampilkan karya dan mengaktualisasikan kemampuan mereka.
Darwin menyebut Taman Wilhelmina menjadi salah satu lokasi yang dapat dimanfaatkan untuk mengapresiasi dan mempresentasikan kesenian tradisional melalui berbagai kegiatan festival.
“Pelaku-pelaku seni sebenarnya membutuhkan ruang, tempat dan waktu untuk mempresentasikan serta mengaktualisasikan apa yang mereka pelajari. Karena itu, festival seperti ini penting untuk terus dilaksanakan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang, Ratna Purnamasari, mengatakan Kentra Pangkal Festival 4 secara khusus mengangkat kesenian tradisional yang menjadi identitas daerah.
Ratna, yang akrab dikenal sebagai Bunda Tudung Saji (BTS), menjelaskan bahwa 30 sanggar yang tampil merupakan sanggar seni tradisional. Pihaknya sengaja memprioritaskan kelompok yang mempertahankan karakter kesenian tradisi, bukan kelompok yang telah mengembangkan pertunjukan menjadi semi-modern.
“Untuk Kemra Pangkal Festival 4 ini, kita menampilkan kesenian tradisional Pangkalpinang. Jadi, semuanya tradisional. Makanya yang ditampilkan adalah sanggar-sanggar yang sudah lama, bisa dibilang sanggar yang usianya di atas 10 tahun,” kata Ratna.

Ia menjelaskan, dari sekitar 60 sanggar seni lebih yang ada di Pangkalpinang, hanya 30 sanggar yang dilibatkan dalam festival tersebut. Selain pertimbangan konsep kegiatan, keterbatasan anggaran juga menjadi salah satu kendala penyelenggaraan.
Meski demikian, Ratna mengapresiasi komitmen para pelaku seni yang tetap berpartisipasi demi menjaga keberlangsungan kebudayaan daerah, meskipun sebagian besar tidak memperoleh uang saku.
Menurutnya, keterlibatan dunia usaha turut membantu kegiatan kebudayaan tetap berjalan di tengah terbatasnya anggaran pemerintah daerah.
“Tanpa bantuan sponsor, kegiatan ini tidak akan berjalan. Dana yang tersedia melalui pagu anggaran pemerintah daerah sangat minim. Alhamdulillah, dunia usaha di Pangkalpinang ternyata memiliki perhatian terhadap kearifan lokal. Dengan semangat gotong royong beberapa perusahaan, kegiatan ini bisa terlaksana,” ungkapnya.
Dambus Masuk Sekolah Jadi Program Prioritas
Ratna mengatakan, pelestarian kebudayaan melalui sekolah telah dirintis sejak 2022 melalui inovasi daerah bertajuk Membangun Kebudayaan Daerah dari Sekolah.
Program tersebut kini memiliki tujuh program, di antaranya Dambus Masuk Sekolah, Budayawan dan Sejarawan Masuk Sekolah, serta Pangkal Heritage Bekecak. Ada pula program pengenalan permainan tradisional, seperti Gas Pangkal Begasing.
Namun, dengan keterbatasan anggaran, pelaksanaan program harus dilakukan secara bertahap. Tahun ini, Dambus Masuk Sekolah menjadi salah satu program yang diprioritaskan untuk menjaga agar kesenian tradisional tersebut tidak hilang.
Ratna menjelaskan, program Dambus Masuk Sekolah dilaksanakan selama tiga bulan, yakni Juli, Agustus dan September 2026. Para pelajar terlebih dahulu mengikuti proses pembelajaran di sekolah, kemudian menampilkan hasilnya dalam pagelaran Dambus Pelajar.
Untuk meningkatkan semangat peserta, pihaknya juga mengemas kegiatan tersebut dalam bentuk perlombaan.
“Biasanya hanya ditonton saja. Saya pikir itu kurang greget dan tidak membuat orang bersemangat ke depannya. Akhirnya kita coba untuk dilombakan. Dengan dilombakan, sekolah justru ingin mengikuti berkali-kali,” ujarnya.

Ia berharap dukungan berbagai pihak, termasuk dunia usaha, dapat terus diperkuat agar program pelestarian kebudayaan di lingkungan pendidikan berjalan berkelanjutan.
Pena Serumpun Raih Juara Pertama Lomba Biografi Wali Kota
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, turut diumumkan pemenang lomba menulis biografi wali kota Pangkalpinang periode 1956–1978.
Juara pertama diraih oleh kelompok Pena Serumpun, disusul Sanggar BTD Pedapuran sebagai juara kedua. Sementara itu, juara ketiga diraih Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang.
Lomba ini menjadi bagian dari upaya mengenalkan sejarah kepemimpinan dan perjalanan pemerintahan Kota Pangkalpinang kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Melalui Kentra Pangkal Festival 4 dan berbagai program kebudayaan berbasis pendidikan, Pemkot Pangkalpinang berharap kesenian tradisional serta sejarah daerah tetap dikenal, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.











