Babel,LibangNews.Com – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggelar Fatmawati Trophy Tingkat Regional 4 yang diikuti perwakilan dari Provinsi Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Lampung. Kegiatan yang berlangsung di Kantor DPD PDI Perjuangan Bangka Belitung, Rabu (22/7/2026), menjadi ajang pelestarian kebaya sekaligus wadah kreativitas bagi para desainer muda.
Ketua Pelaksana Fatmawati Trophy Regional 4, Dessy Ayutrisna, mengatakan setiap provinsi mengirimkan tiga peserta terbaik hasil seleksi tingkat daerah, sehingga total terdapat sembilan peserta yang berkompetisi di tingkat regional.
“Acara Fatmawati Trophy ini tingkat Regional 4 yang meliputi Provinsi Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Lampung. Sebelumnya kita sudah melaksanakan seleksi tingkat Bangka Belitung dan dipilih tiga orang terbaik untuk mengikuti lomba tingkat regional hari ini,” ujar Dessy.
Ia menjelaskan, persiapan pelaksanaan kegiatan berlangsung dalam waktu yang relatif singkat karena merupakan penyelenggaraan perdana di tingkat regional oleh DPD PDI Perjuangan.
“Persiapannya memang tidak lama, hanya beberapa hari. Karena ini juga baru pertama kali diadakan oleh DPD PDI Perjuangan. Tentu segala kekurangan akan menjadi bahan evaluasi untuk pelaksanaan tahun depan agar lebih baik lagi,” katanya.
Menurut Dessy, Fatmawati Trophy bukan sekadar kompetisi desain kebaya, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengenang jasa Ibu Fatmawati sebagai tokoh bangsa sekaligus mendorong pelestarian budaya Indonesia.
“Ini merupakan perlombaan yang digelar dalam rangka mengenang Ibu Fatmawati, melestarikan budaya kebaya, serta menjadi ajang kreativitas bagi para desainer muda, baik di Bangka Belitung maupun di tingkat regional,” ungkapnya.
Dessy mengaku bangga melihat antusiasme dan keseriusan para peserta dalam menampilkan karya terbaik mereka. Menurutnya, setiap desain tidak hanya menonjolkan keindahan, tetapi juga mengangkat filosofi yang berkaitan dengan sosok Fatmawati.
“Saya sangat mengapresiasi para peserta yang sudah berusaha maksimal menampilkan desain dan modelnya. Mereka tidak hanya membuat kebaya, tetapi juga menyusun filosofi yang berkaitan dengan Ibu Fatmawati, kemudian dituangkan dalam karya busana. Menurut saya ini sangat luar biasa karena mereka benar-benar serius dan sungguh-sungguh,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat serta mendorong lahirnya lebih banyak kegiatan serupa yang mengangkat budaya lokal dan nasional.
“Harapannya, kegiatan seperti ini bisa menjadi contoh ke depan, baik di Pangkalpinang maupun di seluruh Bangka Belitung, untuk terus menghadirkan event-event yang mampu melestarikan budaya, khususnya kebaya, sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk terus berkarya,” tutup Dessy.






