Pangkalpinang,LibangNews.Com- Pemerintah Kota Pangkalpinang melalui Dinas Pariwisata menggelar sharing session bersama pelaku ekonomi kreatif (Ekraf), komunitas, akademisi, media, perbankan dan pemerintah dalam skema Hexahelix, Kamis (12/2/2026), di McDonald’s Pangkalpinang.
Kegiatan yang dihadiri Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Pangkalpinang, Juhaini, ini menjadi bagian dari upaya merumuskan arah pengembangan Ekraf tahun 2026 sekaligus bahan penyusunan Rencana Pembangunan Pemerintah Kota Pangkalpinang tahun 2027.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh beberapa pihak sponsor baik dari swasta, BUMD maupun BUMN yang turut mendukung penguatan ekosistem ekonomi kreatif di Kota Pangkalpinang. Selain itu, dalam forum tersebut juga terbangun kolaborasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam rangka menyukseskan pelaksanaan Sensus Ekonomi Tahun 2026, khususnya dalam pendataan sektor ekonomi kreatif.
Juhaini mengatakan, berbagai masukan dan saran dari pelaku Ekraf akan menjadi referensi penting menjelang pelaksanaan Musrenbang tingkat kota yang akan dimulai bulan depan.
“Hari ini kita sharing session dengan pelaku, komunitas dan pemerintah dalam rangka pengembangan Ekraf 2026. Masukan-masukan yang ada akan menjadi bahan penyusunan rencana pembangunan tahun 2027,” ujar Juhaini.
Ia menegaskan, ekonomi kreatif merupakan salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Kota Pangkalpinang sehingga perlu didukung secara serius dan berkelanjutan. “Ekraf ini adalah mesin pertumbuhan ekonomi Pangkalpinang. Karena itu harus kita dukung bersama,” tegasnya.
Dalam diskusi tersebut, turut dibahas penguatan komunitas Ekraf serta optimalisasi Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) sebagai ruang tumbuh subsektor kreatif. Beberapa masukan juga menyoroti pentingnya perbaikan perizinan, kemudahan akses OSS, serta sinergi dalam penyelenggaraan event di Kota Pangkalpinang.
Sementara itu, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang, Susi Erawati, menjelaskan pertemuan tersebut melibatkan unsur Hexahelix yang terdiri dari akademisi, pelaku usaha, komunitas, pemerintah, media dan perbankan.
“Kenapa kita kumpulkan Hexahelix? Supaya kita bisa mendengar masukan mereka, ekosistem Ekraf ini mau dibawa ke mana. Setelah mereka menyampaikan ide dan gagasan, pemerintah akan memfasilitasi agar ekosistem ekonomi kreatif bisa berkembang,” jelas Susi.
Salah satu isu yang mengemuka dalam diskusi adalah peningkatan kualitas kemasan (packaging) produk lokal. Menurut Susi, aspek tersebut menjadi pekerjaan rumah agar produk Ekraf Pangkalpinang mampu bersaing di tingkat lokal, nasional hingga internasional.
“Packaging kita masih perlu ditingkatkan dibanding daerah lain. Ini menjadi PR bagi kami untuk memberikan pelatihan dan fasilitasi agar produk mereka bisa lebih diterima pasar,” ujarnya.
Sebagai Kota Kreatif Indonesia, Pangkalpinang juga berkomitmen mempertahankan predikat tersebut melalui sejumlah rencana strategis, di antaranya pembentukan Kampung Kreatif, Zona Kreatif, dan Creative Hub.
Konsep Kampung Kreatif, kata Susi, dapat dikembangkan dengan mengintegrasikan potensi wisata seperti Susur Sungai dan Sejagat, lengkap dengan kuliner, kriya, hingga pertunjukan musik.
“Wisatawan tidak hanya menikmati wisatanya, tapi juga kuliner, musik dan kriya-nya. Contohnya Kampung Selindung dengan kain Cual yang sudah menjadi ciri khas. Itu bisa kita dorong menjadi Kampung Kreatif,” jelasnya.
Selain itu, Pemkot Pangkalpinang juga merencanakan penguatan promosi melalui media film. Program tersebut ditargetkan terealisasi pada 2027, dengan proses kajian dan seminar yang akan dipersiapkan sejak sekarang bersama Bapperida.
“Promosi yang besar itu bisa melalui film. Insyaallah tahun 2027 kita arahkan ke sana, tapi prosesnya dimulai dari sekarang,” pungkasnya.








