Pangkalpinang,LibangNews.Com– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pangkalpinang mulai mengintensifkan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebih lama dari biasanya. Selain meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), BPBD juga menyiapkan distribusi air bersih bagi masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.
Kepala BPBD Kota Pangkalpinang, Dedi Revandi, mengatakan berdasarkan prakiraan cuaca, musim kemarau tahun ini diprediksi masih berlangsung hingga Oktober bahkan berlanjut sampai November. Kondisi tersebut berbeda dengan tahun sebelumnya yang mulai memasuki musim hujan pada Oktober.
“Kalau tahun lalu sekitar Oktober sudah mulai musim hujan. Tahun ini diperkirakan Oktober hingga November masih didominasi musim kemarau, sehingga perubahan cuaca kemungkinan baru terjadi menjelang akhir tahun atau sekitar Desember,” ujarnya, Senin (20/7/2026).
Menurut Dedi, BPBD telah menyiapkan personel dan berbagai langkah penanganan jika dampak kekeringan semakin meluas. Salah satunya dengan menyediakan layanan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, khususnya keperluan mandi, mencuci, dan kakus (MCK).
Sejauh ini, BPBD baru menerima dua permohonan bantuan air bersih, yakni dari TK Yamusru dan SD Negeri 44 Pangkalpinang. Kedua permintaan tersebut telah ditindaklanjuti melalui pengiriman air bersih ke lokasi.
“Baru ada dua permohonan yang masuk dan semuanya sudah kami layani. Namun kami memperkirakan permintaan akan bertambah apabila musim kemarau terus berlanjut,” katanya.
Dalam memenuhi kebutuhan air bersih, BPBD akan mengutamakan pasokan dari PDAM selama ketersediaannya masih mencukupi. Apabila pasokan dari PDAM terbatas, BPBD akan memanfaatkan sumber air dari kolong yang masih memenuhi syarat untuk kebutuhan nonkonsumsi.
“Kalau PDAM masih bisa menyuplai tentu kami prioritaskan. Jika tidak memungkinkan, kami akan mencari sumber air dari kolong yang kualitasnya masih layak digunakan untuk MCK,” jelasnya.
Dedi menegaskan air yang berasal dari kolong tidak diperuntukkan sebagai air minum. Masyarakat akan diberikan penjelasan agar hanya menggunakan air tersebut untuk mandi, mencuci, dan keperluan sanitasi, sedangkan kebutuhan konsumsi tetap menggunakan air PDAM.
BPBD juga memastikan personel tetap bersiaga selama 24 jam untuk memantau perkembangan cuaca dan merespons laporan masyarakat terkait kekeringan maupun potensi bencana lain selama musim kemarau.
“Kami mengimbau masyarakat agar segera melapor apabila mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Kami siap membantu agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau,” tutup Dedi.










