Babel,LibangNews.Com – Laju inflasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Juli 2026 tetap berada dalam kondisi terkendali dan sesuai sasaran inflasi nasional. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Bangka Belitung tercatat sebesar 0,35 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan 2,62 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Capaian tersebut masih berada dalam rentang target inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen, bahkan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,88 persen (yoy). Dengan capaian itu, Bangka Belitung menjadi provinsi dengan inflasi tahunan terendah ke-13 dari 38 provinsi di Indonesia.
Secara bulanan, tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kenaikan harga dipicu terbatasnya pasokan ikan laut akibat kondisi cuaca yang kurang bersahabat, sehingga turut berdampak pada naiknya harga makanan jadi seperti nasi dengan lauk.
Sementara secara tahunan, inflasi juga didorong oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,25 persen, terutama komoditas cumi-cumi. Harga komoditas tersebut masih lebih tinggi dibandingkan tahun lalu karena pasokan menurun akibat cuaca ekstrem di perairan lokal, sementara permintaan ekspor masih cukup tinggi.
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi 5,63 persen, terutama dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan seiring ketidakpastian ekonomi global. Kelompok transportasi juga mencatat inflasi sebesar 4,29 persen, khususnya pada tarif angkutan udara akibat harga avtur yang masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rommy S. Tamawiwy, mengatakan Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan seluruh anggota Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat koordinasi agar inflasi tetap terjaga sesuai sasaran nasional.
“Inflasi Bangka Belitung hingga Juli 2026 masih berada dalam kisaran target nasional. Meski terdapat sejumlah tekanan, kondisinya relatif terkendali. Ke depan, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan seluruh mitra strategis akan terus memperkuat sinergi agar stabilitas harga tetap terjaga dan daya beli masyarakat dapat dipertahankan,” ujar Rommy, Senin (3/8/2026).
Sebagai langkah konkret, pada 15 Juli 2026 telah digelar High Level Meeting (HLM) TPID yang dipimpin Gubernur Kepulauan Bangka Belitung dan dihadiri seluruh kepala daerah kabupaten/kota, Bank Indonesia, serta organisasi perangkat daerah dan instansi vertikal terkait.
Dari pertemuan tersebut disepakati 11 langkah strategis pengendalian inflasi, di antaranya pelaksanaan operasi pasar murah, gerakan diversifikasi pangan, business matching komoditas pangan, pengembangan Early Warning System (EWS), perluasan asuransi pertanian, penguatan sarana pascapanen, kerja sama antar daerah (KAD), fasilitasi distribusi pangan, hilirisasi pangan, evaluasi kebijakan pengendalian inflasi, hingga pelaporan aktivitas ekonomi melalui sistem Babel Ecository.
Rommy menjelaskan, tindak lanjut dari HLM tersebut mulai direalisasikan melalui kerja sama antar daerah antara Kabupaten Belitung Timur dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang ditandatangani pada 28 Juli 2026 melalui skema Government to Government (G to G) dan Government to Business (G to B).
Menurutnya, kerja sama tersebut diharapkan mampu memperkuat distribusi serta menjamin ketersediaan bahan pangan di Belitung Timur sehingga masyarakat dapat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau.
Selain itu, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah juga terus memperluas pelaksanaan Operasi Pasar Murah (OPM) dan Gerakan Pangan Murah. Hingga saat ini, kedua program tersebut telah dilaksanakan sebanyak 65 kali di berbagai wilayah Bangka Belitung sebagai upaya menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.
Rommy menambahkan, Bank Indonesia juga terus mengoptimalkan implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.
“Kami menyadari tantangan ke depan masih cukup besar, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, dinamika geopolitik hingga perubahan iklim. Karena itu, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan akan terus membangun optimisme, memperkuat komitmen, dan meningkatkan sinergi agar inflasi di Bangka Belitung tetap terkendali sesuai target nasional,” tutup Rommy.









