JNE Perkuat Layanan Desa, UMKM Bangka Kini Bisa Kirim Paket dari Rumah

Pangkalpinang,LibangNews.Com— Akses layanan logistik bagi masyarakat di wilayah pedesaan Pulau Bangka terus diperluas JNE Cabang Pangkalpinang. Perusahaan memperkuat jaringan kemitraan di desa sekaligus menyediakan layanan penjemputan paket langsung dari rumah pelanggan maupun lokasi pelaku usaha.

Kepala Cabang JNE Pangkalpinang, Asbullah, mengatakan strategi tersebut ditujukan untuk mempermudah masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dalam mengirimkan produk ke luar daerah.

Menurutnya, keberadaan mitra di tingkat desa membuat pelaku UMKM tidak lagi harus membawa barang ke pusat kota, kecamatan, atau ibu kota kabupaten.

“UMKM yang membutuhkan jasa layanan JNE tidak perlu mengantarkan paket sampai ke kota utama, kecamatan, bahkan kota kabupaten. Cukup di desa-desa sekitar mereka,” kata Asbullah, Jumat (14/8/2026).

JNE saat ini mengoperasikan armada setiap hari melalui jalur sekunder yang melintasi empat kabupaten di Pulau Bangka, yakni Bangka Tengah, Bangka Selatan, Bangka, dan Bangka Barat.

Armada tersebut sekaligus digunakan untuk mengambil barang dari mitra-mitra JNE yang berada di kawasan pedesaan.

“Armada kami setiap hari jalan melalui jalur sekunder di empat kabupaten yang ada di Bangka. Mereka akan berkeliling untuk memfasilitasi pick up barang-barang dari mitra kami,” ujarnya.

Untuk memperluas jangkauan tanpa harus membangun kantor di setiap wilayah, JNE menggandeng pemilik toko maupun konter sebagai mitra layanan.

Asbullah menyebut jaringan kemitraan dengan pelaku UMKM di Bangka sudah cukup luas, meski pihaknya belum memiliki angka khusus yang memisahkan jumlah mitra berdasarkan kategori UMKM.

“Kalau mitra kita mungkin banyak. Kalau secara data mungkin kita tidak spesifik, namun kalau termasuk UMKM bisa puluhan sampai ratusan,” katanya.

Pola kemitraan tersebut dinilai memberikan keuntungan bagi masyarakat desa karena mereka memiliki titik layanan pengiriman yang lebih dekat dengan tempat tinggal.

Bagi UMKM yang menjalankan bisnis secara daring, keberadaan layanan pick up juga membuat proses distribusi menjadi lebih praktis.

Asbullah mencontohkan wilayah Kuran yang menurutnya memiliki cukup banyak pelaku usaha online. Para pelaku usaha dapat berkonsentrasi pada kegiatan penjualan, sementara pengiriman barang dibantu oleh petugas JNE.

“Mereka hanya fokus dengan jualan mereka, barang mereka akan kami pick up dari rumah,” tuturnya.

Perluasan layanan hingga wilayah pedesaan juga menghadirkan tantangan tersendiri. Salah satunya berkaitan dengan kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) untuk mendukung mobilitas armada.

Meski demikian, Asbullah memastikan kondisi tersebut tidak sampai menghentikan pelayanan kepada pelanggan.

JNE, kata dia, terus melakukan penyesuaian operasional agar estimasi waktu pengiriman yang telah disampaikan kepada konsumen tetap dapat dipenuhi.

“Memang sedikit banyak ada kendala karena kami banyak di lapangan dan menggunakan BBM. Namun kami mengantisipasi dan memastikan pelayanan kepada customer tetap terlayani dengan baik dan tidak terganggu,” jelasnya.

Ia menambahkan, evaluasi dan perbaikan di lapangan terus dilakukan agar standar waktu pengiriman tetap terjaga.

“Yang sudah kami janjikan, yang sudah kami sampaikan kepada pelanggan-pelanggan kami, itu tetap sesuai waktu. Bagaimana di lapangannya, itu yang terus kami improve,” katanya.

Karakteristik masyarakat pedesaan juga menjadi pertimbangan dalam proses pengantaran. Tidak sedikit warga yang bekerja di kebun atau beraktivitas di luar rumah pada siang hari.

Kondisi tersebut membuat kurir terkadang harus menyesuaikan waktu pengantaran agar paket dapat diterima langsung oleh penerima.

Asbullah mengatakan petugas dapat melakukan pengantaran pada sore hingga malam hari apabila penerima baru berada di rumah pada waktu tersebut.

“Tim kami juga mendeliver pada sore atau malam hari sesuai saat mereka ada di tempat,” ujarnya.

Jika penerima belum ditemui, paket tidak serta-merta dikembalikan kepada pengirim. Petugas terlebih dahulu melakukan sejumlah upaya sesuai prosedur operasional.

Asbullah menjelaskan, ketika kurir kesulitan menemukan alamat atau nomor telepon penerima tidak dapat dihubungi, petugas akan mencari informasi tambahan di sekitar lokasi.

Informasi dapat diperoleh dengan berkoordinasi dengan warga sekitar, RT, kantor desa atau kelurahan, hingga pemerintah setempat.

Jika penerima tetap tidak ditemukan, JNE akan menghubungi pihak pengirim untuk mencari solusi.

“Kalau pengirim mengatakan memang tidak bisa berhubungan dengan penerima, barang baru kami retur ke pengirim setelah ada persetujuan,” jelasnya.

Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari kerugian bagi pengirim maupun penerima. Sebab, barang yang langsung dikembalikan berpotensi membuat pengirim harus menanggung kembali proses pengiriman.

Asbullah menegaskan posisi JNE dalam proses tersebut adalah sebagai penghubung antara pihak pengirim dan penerima. Karena itu, setiap kendala di lapangan terlebih dahulu diupayakan penyelesaiannya sebelum paket diputuskan untuk diretur.

Dengan penguatan kemitraan di desa, layanan pick up, armada jalur sekunder, serta fleksibilitas waktu pengantaran, JNE Pangkalpinang menargetkan akses logistik masyarakat Bangka semakin mudah.

Bagi pelaku UMKM, kemudahan tersebut diharapkan dapat membantu mereka memperluas pasar melalui penjualan daring tanpa harus terkendala jarak dan proses pengiriman barang.

Pos terkait