Inflasi Pangkalpinang Juli 2026 Capai 0,85 Persen, Cuaca Buruk Picu Kenaikan Harga Ikan

Pangkalpinang,LibangNews.Com – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pangkalpinang mencatat inflasi pada Juli 2026 sebesar 0,85 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m), sementara inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) mencapai 2,67 persen.

Data tersebut disampaikan Kepala BPS Kota Pangkalpinang, Dewi Safitri, dalam kegiatan Rilis dan Press Conference Berita Resmi Statistik (BRS) Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK)/Inflasi Juli 2026 yang berlangsung di ruang rapat BPS Kota Pangkalpinang, Senin (3/8/2026).

Dewi Safitri menjelaskan, inflasi bulanan pada Juli 2026 terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, khususnya hasil perikanan.

“Inflasi month-to-month pada Juli 2026 sebesar 0,85 persen. Komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi adalah ikan tenggiri, nasi dengan lauk, dan cumi-cumi,” ujarnya.

Ia mengatakan, kenaikan harga komoditas perikanan tidak terlepas dari kondisi cuaca yang kurang bersahabat sehingga memengaruhi aktivitas nelayan dalam menangkap ikan.

“Cuaca buruk menyebabkan hasil tangkapan nelayan berkurang sehingga pasokan ikan di pasar ikut menurun. Akibatnya harga berbagai jenis ikan mengalami kenaikan. Dari sekitar 22 jenis ikan yang kami pantau pada Juli 2026, ikan tenggiri dan cumi-cumi menjadi penyumbang inflasi paling dominan,” jelas Dewi.

Selain menjadi penyumbang inflasi bulanan, komoditas cumi-cumi juga tercatat memberikan andil terhadap inflasi tahunan.

Sementara itu, untuk inflasi tahunan sebesar 2,67 persen, Dewi mengungkapkan komoditas penyumbang terbesar berasal dari tarif angkutan udara, bensin, dan cumi-cumi.

“Tarif angkutan udara menjadi komoditas dengan kenaikan paling tinggi secara tahunan, yakni mencapai 33,15 persen dan memberikan andil sebesar 0,48 persen terhadap inflasi. Selain itu, kenaikan harga bensin dan cumi-cumi juga turut mendorong inflasi tahunan,” katanya.

Menurut Dewi, perkembangan inflasi pada Juli 2026 menunjukkan bahwa faktor cuaca masih menjadi salah satu penentu utama pergerakan harga komoditas pangan, terutama sektor perikanan. Karena itu, BPS akan terus memantau perkembangan harga sebagai bahan evaluasi bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

“BPS terus melakukan pemantauan perkembangan harga secara rutin agar kondisi inflasi dapat terukur dengan baik dan menjadi dasar bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan pengendalian inflasi,” tutupnya.

Pos terkait