Babel,LibangNews.Com— Persoalan kesehatan anak di Bangka Belitung mendapat sorotan serius. Selain masih tingginya angka stunting, kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji (fast food), kecanduan gawai, hingga rendahnya cakupan imunisasi menjadi perhatian yang harus segera ditangani.
Kondisi tersebut terungkap dalam kegiatan Orientasi Pendidikan Gizi bagi Kader PKK yang digelar Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Sekretariat PKK, Kompleks Kantor Gubernur Babel, Selasa (1/9/2026).
Kegiatan yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tersebut dibuka langsung Ketua TP-PKK Babel, Noni Hidayat, dan diikuti puluhan kader PKK dari kabupaten dan kota se-Babel.
Dalam pemaparannya, Kepala Dinas Kesehatan Babel, dr. Ria Agustine, mengungkapkan cakupan imunisasi dasar lengkap di Babel masih tergolong rendah.
Saat ini, capaian imunisasi baru berada di kisaran 20 persen, sedangkan target yang harus dicapai mencapai 46 persen.
Rendahnya cakupan imunisasi tersebut turut menjadi perhatian menyusul ditemukannya 40 kasus campak pada Juli 2026.
Tak hanya persoalan imunisasi, kondisi stunting juga masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan masyarakat. Ria menyebut angka stunting di Babel saat ini berada di kisaran 20,03 persen atau masih sedikit di atas rata-rata nasional.
Persoalan lain yang tak kalah mengkhawatirkan adalah perubahan pola hidup anak dan keluarga.
Anak-anak disebut semakin gemar mengonsumsi makanan cepat saji, terutama ketika akhir pekan. Di sisi lain, penggunaan gawai yang berlebihan dinilai ikut mengurangi komunikasi dan interaksi antara anak dengan keluarga.
Menanggapi kondisi tersebut, Noni Hidayat meminta seluruh kader PKK untuk tidak sekadar menjadi pelaksana kegiatan, tetapi ikut menjadi penggerak edukasi kesehatan di tengah masyarakat.
Menurutnya, menciptakan generasi unggul tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi. Perlindungan kesehatan anak melalui imunisasi juga harus menjadi perhatian serius.
“Selain masalah makanan, angka cakupan imunisasi juga harus menjadi perhatian kita bersama. Berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan, cakupan imunisasi di Bangka Belitung ini masih termasuk yang rendah. Ayo, Ibu-ibu kader, kita sama-sama mengajak masyarakat di sekitar kita untuk memenuhi standar imunisasi anak,” ujar Noni.
Ia juga meminta kader PKK ikut meluruskan informasi yang keliru mengenai vaksinasi. Menurutnya, hoaks terkait imunisasi masih berpotensi membuat orang tua ragu memberikan vaksin kepada anak.
“Banyak berita di luar sana yang bilang imunisasi bikin anak lumpuh, itu tidak benar. Justru itu untuk pencegahan. Buktinya saya juga diimunisasi full sejak kecil, alhamdulillah sehat-sehat saja,” tegasnya.
Noni menilai kader PKK memiliki posisi strategis karena bersentuhan langsung dengan masyarakat hingga tingkat lingkungan tempat tinggal.
Karena itu, edukasi mengenai kesehatan dan gizi menurutnya tidak harus selalu menunggu kegiatan resmi atau forum formal.
Ia mendorong kader memanfaatkan berbagai kesempatan dalam kehidupan sehari-hari untuk mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya pola hidup sehat, gizi seimbang, imunisasi, serta pola asuh anak.
“Sasaran kita itu dekat; kanan, kiri, depan, dan belakang rumah kita. Bertemu tetangga saat menyiram tanaman atau arisan, tanyakan kondisi anak dan keluarganya. Mari bersinergi mengubah perilaku keluarga dari hal yang paling sederhana,” pungkas Noni.
Dengan peran aktif kader PKK hingga tingkat lingkungan, edukasi kesehatan diharapkan tidak berhenti di ruang pertemuan, tetapi benar-benar menjadi gerakan bersama untuk memperbaiki pola hidup keluarga dan mendorong lahirnya generasi Babel yang lebih sehat dan berkualitas.










