Pangkalpinang,LibangNews.Com — Lonjakan harga daging ayam ras menjadi pemicu utama naiknya inflasi Kota Pangkalpinang sepanjang Agustus 2026. Kenaikan harga ayam yang mencapai 42,83 persen turut mendorong inflasi bulanan Pangkalpinang menembus 0,91 persen.
Angka tersebut tercatat sebagai inflasi bulanan tertinggi yang dialami Pangkalpinang sepanjang 2026. Bahkan, capaian Agustus menjadi yang tertinggi kedua dalam tiga tahun terakhir, setelah inflasi 1,78 persen pada Maret 2025 yang saat itu dipengaruhi normalisasi tarif listrik.
Kepala BPS Kota Pangkalpinang, Dewi Savitri, mengatakan tekanan inflasi pada Agustus terutama berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau.
“Pada Agustus 2026 Kota Pangkalpinang mengalami inflasi bulanan sebesar 0,91 persen,” ujar Dewi dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS), Selasa (1/9/2026).
Berdasarkan catatan BPS, Indeks Harga Konsumen (IHK) Pangkalpinang meningkat dari 109,24 pada Juli menjadi 110,23 pada Agustus 2026.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi sebesar 2,93 persen dengan memberikan andil paling besar terhadap inflasi umum, yakni 0,95 persen.
Dari kelompok tersebut, daging ayam ras menjadi komoditas yang paling memberikan tekanan. Harganya melonjak hingga 42,83 persen dan menyumbang andil inflasi sebesar 0,82 persen.
Selain ayam ras, kenaikan harga sepeda motor dan telepon seluler masing-masing turut memberikan andil inflasi sebesar 0,05 persen.
Di sisi lain, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga dan menahan laju inflasi. Angkutan udara menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil minus 0,31 persen. Penurunan harga juga terjadi pada ikan singkur dan bawang merah.
Dewi menegaskan, tingginya inflasi Agustus perlu menjadi perhatian lantaran berada di atas rata-rata inflasi dalam tiga tahun terakhir.
Jika dilihat secara tahunan, inflasi Pangkalpinang pada Agustus 2026 tercatat 4,11 persen. Angka tersebut terbentuk dari kenaikan IHK, dari 105,88 pada Agustus 2025 menjadi 110,23 pada Agustus 2026.
Tekanan tahunan kembali didominasi kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 6,42 persen.
“Data ini menunjukkan bahwa pergerakan harga komoditas pangan, khususnya daging ayam ras, menjadi salah satu faktor utama yang perlu diperhatikan dalam perkembangan inflasi Pangkalpinang pada Agustus 2026,” kata Dewi.
Sementara itu, secara tahun kalender atau sejak Januari hingga Agustus 2026, inflasi Kota Pangkalpinang tercatat sebesar 2,51 persen.
Dalam menghitung perkembangan inflasi, BPS Kota Pangkalpinang melakukan pemantauan terhadap 357 paket komoditas yang menjadi bagian dalam pembentukan inflasi daerah.
Lonjakan harga ayam ras pada Agustus menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah untuk mencermati stabilitas pasokan dan harga komoditas pangan, khususnya bahan kebutuhan masyarakat yang memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan inflasi.










